Just another WordPress.com site

Zona Galaksi Bimasakti

...Tampak bahwa terdapat penampakan seperti bayangan hitam di tengah yang dikelilingi oleh semacam "aura" cemerlang. Bayangan hitam itulah yang menjadi asal usul nama "Bima Sakti"...
  • Galaksi Bimasakti dalam panjang gelombang infra merah dekat (Sumber: NASA-LAMBDA)

Terbaru

# Bintang Primitif Di Luar Galaksi Bima Sakti Terungkap

Sejumah ilmuwan pada European Southern Observatory (ESO) telah mengungkap bintang paling primitif di luar galaksi Bima Sakti. Bintang-bintang ini tersembunyi selama beberapa tahun, namun kini telah terdeteksi berkat observasi baru Teleskop ESO.

Diyakini bintang-bintang primitif itu telah terbentuk 13,7 juta tahun lalu, dari materi tepat setelah Big Bang. Menurut ESO, bintang-bintang itu dianggap “bintang dengan elemen logam sangat rendah” karena memiliki kurang dari seperseribu jumlah elemen logam yang ditemukan di bawah sinar matahari. Istilah “logam” pada astronomi merujuk kepada elemen yang lebih berat dari hydrogen dan helium.

Apa yang memungkinkan para ilmuwan mendeteksi elemen-elemen tersebut? Setiap elemen yang menyusun sebuah bintang, menyerap cahaya dari frekwensi warna tertentu. Ketika para astronom menganalisa cahaya bintang melalui spektograph, mereka menemukan “spectrum” dari bintang tersebut. Pedoman ini memungkinkan para ilmuwan dapat mengetahui apa jenis dari elemen dalam sebuah bintang dan berapa jumlahnya.

“Hanya perbedaan kecil yang membedakan sidik jari kimia dari sebuah bintang rendah logam normal dari bintang yang sangat rendah logam, dengan menjelaskan mengapa metode sebelumnya tidak berhasil dalam membuat identifkasi,” menurut ESO dalam siaran persnya.

Dengan analisa menyeluruh dari spectrum bintang dan informasi sangat terperinci yang disajikan UVES (Ultraviolet-Visual Echelle Spektrograph) pada Very Large Telescope, para ilmuwan dapat mengkonfirmasi keberadaan bintang primitif yang memiliki kandungan logam ekstrem rendah.

“Karya kami mengungkap beberapa bintang dalam galaksi ini bukan saja sangat menarik namun juga telah menyajikan tekhnik baru dan mutakhir untuk mengungkap lebih banyak lagi bintang-bintang primitif seperti itu,” ujar pimpinan riset, Dr. Else Starkenburg. Penemuan ini berarti kemajuan sangat penting pada bidang analisa perbintangan dan mereka kini telah membawa kita selangkah lebih dekat menuju pemahaman alam semesta serta bagaimana semua itu terbentuk.

Hanya saja, analisa baru ini masih membutuhkan cukup waktu. “Hanya sejumlah kecil bintang yang dapat diamati dengan cara ini karena sangat memakan waktu,” ujar peneliti Dr. Vanessa Hill dalam siaran persnya.

Riset itu diterbitkan di dalam jurnal Astronomy &Astrophisika. (EpochTimes/sua)

http://erabaru.net/iptek/81

# Taukahkamu; Setelah di “Sensus” Galaxi BimaSakti Memiliki Lebih dari 50 Milyar Planet

Sejumlah ilmuwan melakukan sensus planet untuk pertama kalinya dan memperkirakan bahwa galaksi Bima Sakti memiliki setidaknya 50 miliar planet.

Dari jumlah itu, setidaknya 500 juta planet memiliki suhu yang tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin, sehingga memungkinkan adanya kehidupan. Demikian seperti dilansir MSNBC, Minggu (20/2/2011).

Sungguh besar tanda-tanda kekuasaanMU Ya Rabb...

Angka itu masih merupakan penghitungan awal planet yang dilakukan melalui teleskop Kepler milik NASA. Kepala peneliti William Borucki menjelaskan, itu merupakan jumlah planet yang mereka temui pada tahun pertama penghitungan.

Misi utama sensus ini, selain mendapatkan gambaran berapa banyak planet yang terdapat dalam galaksi Bima Sakti, adalah menemukan planet yang berpotensi untuk dihuni.

Borucki dan rekan-rekannya memperkirakan, satu dari dua bintang memiliki planet, dan satu dari 200 bintang memiliki planet dalam zona yang bisa dihuni. Itu hanyalah perkiraan minimum, karena bintang biasanya memiliki lebih dari satu planet, sementara Kepler belum mendapatkan gambaran planet-planet yang berada cukup jauh dari bintangnya.

Untuk mendapatkan perkiraan jumlah planet, ilmuwan menggunakan frekuensi planet yang telah mereka observasi dan mengaplikasikannya pada jumlah bintang dalam galaksi. Saat ini, diperkirakan terdapat 300 miliar bintang dalam galaksi Bima Sakti.

taukahkamu.com

# Galaksi Bimasakti akan Mati dari Dalam?

Masya Allah

, JakartaStudi baru menemukan struktur bintang berbentuk balok di pusat galaksi spiral, termasuk Bimasakti. Ini mampu menghancurkan galaksi dari dalam.

Peneliti menemukan bahwa galaksi spiral di formasi bintang mungkin memiliki balok pusat (formasi linier besar). Peneliti berpendapat bahwa balok itu merupakan tersangka utama yang menekan formasi bintang, meskipun bagaimana terjadinya masih misteri.

Kemunculan balok-balok ini mungkin hanya efek samping mekanisme misterius bintang pembunuh, kata peneliti. Penelitian ini membantu astronom lebih memahami masa depan Bimasakti di mana galaksi ini juga memiliki balok pusat.

Untuk itu, peneliti mendaftar ribuan relawan melalui proyek online Galaxy Zoo 2. Proyek ini meminta relawan membantu mengklasifikasi galaksi menurut bentuk. Selain itu, relawan diminta mengamati 250 ribu galaksi, dan menentukan terdapat balok atau tidak.

Menggunakan informasi ini, peneliti menemukan galaksi spiral merah yang kemungkinan besar memiliki balok pusat seperti galaksi spiral biru. Galaksi biru mendapatkan warna birunya dari bintang muda di dalamnya. Galaksi merah berisi bintang tua dan formasi bintang ini telah berhenti dan membuatnya berwarna merah.

Untuk beberapa saat, data menunjukkan spiral dengan banyak bintang tua kemungkinan besar memiliki balok pusat, kata pemimpin studi. Penelitian ini akan diterbitkan di jurnal bulanan Notices of the Royal Astonomical Society.[ito]

INILAH.COM

# Sejarah terbentuknya galaksi bima sakti

Bimasakti

Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Universitas Durham mengungkapkan asal muasal bintang purba di alam semesta. Menurut hasil penelitian mereka tersebut, bintang-bintang purba tersebut berasal dari sisa-sisa galaksi kecil yang terkoyak saat terjadi tabrakan galaksi 5 milyar tahun lalu.

Untuk mengetahui kejadian tersebut, para ilmuwan dari Durham’s Institute for Computational Cosmology beserta para kolaborator dari Max Planck Institute for Astrophysics, Jerman, dan Groningen University, Belanda melakukan simulasi besar-besaran yang bertujuan untuk menciptakan kembali awal mula terbentuknya galaksi Bima Sakti.

Simulasi yang dilakukan ini ternyata mengungkap keberadaan bintang-bintang purba ditemukan di puing halo bintang sekeliling Bima Sakti, ternyata telah terkoyak dari galaksi yang lebih kecil akibat gaya gravitasi yang terbentuk saat terjadinya tabrakan galaksi.

Menurut prediksi kosmolog, alam semesta dini terdiri dari galaksi-galaksi kecil yang memiliki masa hidup pendek dan memimpin terjadinya kekerasan. Galaksi-galaksi ini kemudian bertabrakan satu sama lainnya meninggalkan puing-puing yang akhirnya menetap dan tampak seperti galaksi dalam hal ini Bima Sakti.

Hasil penelitian ini juga sekaligus menunjukkan kalau bintang-bintang purba di Bima Sakti sesungguhnya berasal dari galaksi lain dan bukannya bintang-bintang awal yang lahir di Bima Sakti saat ia mulai terbentuk 10 milyar tahun lalu.

Arkeologi Galaktik
Penelitian ini tak pelak membuat Andrew Cooper dari Universitas Durham beserta rekan-rekannya menjadi ahli arkeologi galaktik yang mencari situs dimana terdapat bintang purba untuk diteliti sehingga bisa mengungkap sejarah terbentuknya galaksi Bima Sakti. Dan yang pasti untuk mendapatkan situs bintang purba pun tak mudah, karena mereka tersebar di sekeliling galaksi, bukan terkumpul hanya di suatu tempat saja.

Simulasi yang dijalankan menunjukkan betapa berbedanya relik yang ada di Bima Sakti saat ini, seperti halnya bintang-bintang purba yang memiliki kaitan dengan sebuah kejadian di masa lalu. Nah, seperti halnya lapisan batuan purba yang mengungkap sejarah Bumi, halo bintang juga mempertahankan catatan berbagai kejadian dramatik pada satu periode di masa lalu Bima Sakti yang berakhir jauh sebelum Matahari lahir.

Simulasi yang dilakukan ini dimulai sesaat setelah Dentuman Besar, sekitar 13 milyar tahun lalu. Setelah itu digunakan hukum fisika yang berlaku umum untuk mensimulasi evolusi materi gelap dan bintang-bintang. Simulasi ini dilakukan dengan kondisi yang realistik serta mampu memperbesar dan memperlihatkan detil struktur halo bintang, termasuk di dalamnya “aliran” bintang. Aliran bintang disini merupakan bintang yang terlontar atau tertolak dari galaksi-galaksi kecil sebagai akibat gaya gravitasi materi gelap.

Hasil simulasi memperlihatkan, satu bintang dalam seratus bintang di Bima Sakti berasal dari halo bintang, yang lebih besar dari piringan spiral galaksi. Dan bintang-bintang tersebut usianya sudah hampir setua alam semesta.

Tak pelak, simulasi ini bisa dikatakan merupakan cetak biru dari pembentukan galaksi, yang memperlihatkan petunjuk penting dari sejarah kelam dan dramatik yang pernah ada di Bima Sakti.

http://jajatjatnika.com/sejarah-terbentuknya-galaksi-bima-sakti/

 

# Sejarah Nama-nama Planet di Galaksi Bima Sakti

Planet adalah benda langit yang memiliki ciri-ciri berikut:

  • Mengorbit mengelilingi bintang atau sisa-sisa bintang
  • Mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi tersendiri agar dapat mengatasi tekanan rigid body sehingga benda angkasa tersebut mempunyai bentuk kesetimbangan hidrostatik (bentuk hampir bulat)
  • Tidak terlalu besar hingga dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap deuterium di intinya
  • Telah “membersihkan lingkungan” (clearing the neighborhood; mengosongkan orbit agar tidak ditempati benda-benda angkasa berukuran cukup besar lainnya selain satelitnya sendiri) di daerah sekitar orbitnya

Sejarah nama-nama planet
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet. Pada abad ke-6 SM, bangsa Yunani memberi nama Stilbon (cemerlang) untuk Merkurius, Pyoroeis (berapi) untuk Mars, Phaethon (berkilau) untuk Jupiter, Phainon (Bersinar) untuk Saturnus. Khusus planet Venus memiliki dua nama yaitu Hesperos (bintang sore) dan Phosphoros (pembawa cahaya). Hal ini terjadi karena dahulu planet Venus yang muncul di pagi dan di sore hari dianggap sebagai dua objek yang berbeda.

Pada abad ke-4 SM, Aristoteles memperkenalkan nama-nama dewa dalam mitologi untuk planet-planet ini. Hermes menjadi nama untuk Merkurius, Ares untuk Mars, Zeus untuk Jupiter, Kronos untuk Saturnus dan Aphrodite untuk Venus.

Pada masa selanjutnya di mana kebudayaan Romawi menjadi lebih berjaya dibanding Yunani, semua nama planet dialihkan menjadi nama-nama dewa mereka. Kebetulan dewa-dewa dalam mitologi Yunani mempunyai padanan dalam mitologi Romawi sehingga planet-planet tersebut dinamai dengan nama yang kita kenal sekarang.

Hingga masa sekarang, tradisi penamaan planet menggunakan nama dewa dalam mitologi Romawi masih berlanjut. Namun demikian ketika planet ke-7 ditemukan, planet ini diberi nama Uranus yang merupakan nama dewa Yunani. Dinamakan Uranus karena Uranus adalah ayah dari Kronos (Saturnus). Mitologi Romawi sendiri tidak memiliki padanan untuk dewa Uranus. Planet ke-8 diberi nama Neptunus, dewa laut dalam mitologi romawi.

azhiera.wordpress.com

# Ada Katak Hijau Menari di Dekat Galaksi Bima Sakti

Hanny's Voorwerp

Sebuah gumpalan gas yang awalnya sangat kecil ketika pertama kali ditemukan pada tahun 2007 seperti hidup. Ini tampak dari makin membesarnya gumpalan tersebut dan melahirkan sejumlah bintan baru yang umurnya hanya dua juta tahun.

Sekumpulan bintang ini lahir di sebuah tempat yang sangat jauh di angkasa di mana bintang tak seharusnya kumpulan di sana. Gumpalan gas ini pertama kali ditemukan oleh seorang guru SD asal Belanda bernama Hanny van Arkel yang kini berusia 27 tahun. Ketika itu ia ikut ambil bagian dalam pengamatan angkasa Galaxy Zoo untuk melihat benda-benda dan kemudian memasukkannya ke katalog.

Sebagian dari gas berwarna hijau itu hancur dan hasilnya memberikan tekanan serta melahirkan bintang baru. Karena tidak berada di tempat sebenarnya, sejumlah bintang yang baru dilahirkan ini disebut bintang kesepian dan berada di tengah-tengah. Demikian disampaikan Bill Keel,ahli perbintangan dari Universitas Alabama, Amerika Serikat (AS).

Gumpalan gas ini hampir seukuran Galaksi Bima Sakti dan berjarak 650 juta tahun perjalanan cahata. satu tahun cahaya sebanding dengan enam triliun mil.

Van Arkel mengatakan saat pertama kali melihat obyek yang diberi nama sesuai namanya, Hanny’s Voorwerp, terlihat biry dan kecil. Namun,melalui hasil foto teleskop Hubble, NASA, mirip memberikan penjelasan apa yang ada di sekitar gumpalan gas itu.

“Awalnya seperti noda kecil warna biru namun kini seperti katak menari di langit karena saat ini warnanya sudah berubah menjadi hijau,” katanya sembari menambahkan ia bisa melihat bagian lengan dan mata dari gumpalan gas yang terlihat seperti katak itu.

TRIBUNNEWS.COM –

Galaksi Bimasakti Kedatangan “Anggota” Baru

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON–Beberapa hari ini, galaksi Bimasakti (Milky Way) tempat bumi bermukim, kedatangan anggota baru. Bintang pendatang baru itu diduga datang dari galaksi yang sangat jauh yang tersedot  Bimasakti.

HIP13044b

HIP13044b adalah planet pertama yang dideteksi di Bimasakti yang lahir di luar galaksi kita.

Berkat perbaikan dalam teknologi teleskop, para astronom telah menemukan bukti untuk hampir 500 planet ekstrasurya dalam 15 tahun terakhir, yang hadir dalam lingkungan galaksi Bumasakti. Namun benda-benda langit dengan ukuran yang berbeda mengorbit itu dikonfirmasi oleh para ilmuwan berasal dalam Bima Sakti.

Planet yang baru ditemukan memiliki massa minimal 1,25 kali dari Jupiter.  Bintang ini merupakan bagian dari “aliran Helmi”,  sekelompok bintang yang dulu milik sebuah galaksi kerdil sebelum dikanibalisasi oleh Bimasakti antara enam dan sembilan miliar tahun lalu.

“Penemuan ini sangat menarik,” kata Rainer Klement dari IMax Planck Institute for Astronomy (MPIA) dan penulis naskah yang diterbitkan hari ini di Science Express. “Untuk pertama kalinya, astronom telah mendeteksi sebuah sistem planet dalam aliran bintang asal galaksi lain. Karena jarak yang amat jauh, tidak ada konfirmasi deteksi planet-planet di galaksi lain, ini murni sebuah merger kosmik yang  telah membawa planet extragalaktik dalam jangkauan kita. ”

HIP13044 berasal dari lokasi 2.000 tahun cahaya dari bumi dan pertama terlihat di konstelasi Fornax selatan.  Para astronom planet mendeteksi dengan mengamati gerakan kecil yang disebabkan gravitasi bintang sebagai orbit planet. Para peneliti mengukur getaran menggunakan spektrograf yang terhubung ke teleskop 2,2 meter di Observatorium Eropa Selatan,  La Silla Observatory di Chile.

“Penemuan ini merupakan bagian dari studi di mana kita secara sistematis mencari eksoplanet  yang mengorbit bintang yang mendekati akhir hidup mereka,” kata Johny Setiawan, juga ilmuwan dari MPIA dan rekan Klement yang menuliskan temuan ini. “Penemuan ini sangat menarik ketika kita mempertimbangkan masa depan  sistem planet kita sendiri, saat Matahari masih menjadi raksasa dalam sekitar lima miliar tahun ke depan.”

HIP13044b relatif dekat dengan bintang ini, kata para ilmuwan, pada pendekatan yang terdekat mencapai kurang dari 0,055 kali jarak antara bumi dan matahari, dan memakan waktu lebih dari 16 hari untuk menyelesaikan garis edarnya. Bintang itu sendiri telah melewati tahap raksasa merah, di mana itu akan diperluas untuk beberapa kali diameter aslinya karena kehabisan bahan bakar hidrogen – sebuah nasib yang akan menimpa matahari kita sendiri dalam satu miliar beberapa tahun.

“Bintang tersebut berputar relatif cepat,” kata Setiawan. “Salah satu penjelasan adalah bahwa HIP13044 mencaplok planet itu selama fase raksasa merah, yang membuat bintang berputar lebih cepat.”

He added that there are unanswered questions about how the planet, which orbits a star containing very few chemical elements other than hydrogen and helium, was formed when there was seemingly such a small range of material available. Until now, very few planets have been discovered orbiting stars such as this.

Dia menambahkan bahwa ada pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya hingga saat ini tentang bagaimana planet, yang mengorbit bintang yang mengandung unsur kimia yang sangat sedikit selain hidrogen dan helium, terbentuk. Sampai saat ini, sangat sedikit planet yang mengorbitkan bintang-bintang seperti ini.

“Ini adalah teka-teki tentang model diterima secara luas pembentukan planet untuk menjelaskan bagaimana seperti bintang, yang berisi hampir tidak ada unsur berat sama sekali, dapat membentuk sebuah planet,” kata Setiawan. “Planet sekitar bintang-bintang seperti ini mungkin harus terbentuk dengan cara yang berbeda.”

republika.co.id